ANALISIS EKONOMI KOMODITI CENGKEH, RAMBUTAN DAN LENGKENG PADA LAHAN MARGINAL DI DESA DIDIRI KECAMATAN PAMONA TIMUR

Marten Pangli

Sari

Penelitian ini dilaksanakan di desa Didiri dengan utama adalah tersedianya data dan informasi yang memadai pada usaha tani daerah marginal yang ditinjau dari berbagai aspek : 1) Aspek teknik budidaya, yaitu kesesuaian lahan dan faktor pembatas, 2) Aspek pasar, yaitu peluang pasar pada setiap komoditi, 3) Aspek financial dengan kriteria inverstasi : NPV, IRR dan B/C, 3) Aspek sosial budaya, yaitu perilaku bercocok tanam dan kondisi riil usaha tani, 4) Aspek konservasi pada tanah dan air.

Data responden menunjukan bahwa 57,14% petani menjual hasil pertanian ke tempat pembeli, pembeli utama (tengkulak 25,71%; agen besar 14,29%; masyarakat sekitar 45,71%), patokan harga berdasarkan harga (pasar 28,17%; tawar menawar 25,71%; mengikuti pembeli 8,57%), petani tidak melakukan analisa ekonomi ( 82,86%), petani mengalami produksi melimpah harga rendah (62,86%), faktor penghambat cara bercocok tanam (48,57%), dan usaha pertanian untuk pemenuhan kebutuhan sehari-hari (68,57%).

Berdasarkan hasil analisis data empiris, maka dapat disimpulkan sebagai berikut : Aspek pasar, komoditi yang dikembangkan saat ini memiliki peluang pasar yang baik. Walaupun komoditi cengkeh memiliki peluang pasang surut, tetapi saat ini harga komoditi tersebut telah menembus harga Rp. 50.000 atau lebih. Sedangkan komoditi yang berpeluang lebih baik adalah rambutan karena harga stabil yang sangat tergantung produksi dan kontinuitasnya, Aspek finansial, dalam aspek ini lebih difokuskan pada komoditi cengkeh, rambutan dan lengkeng.

Berdasarkan analisis cash flow proyeksi biaya dan pendapatan komoditi cengkeh, rambutan dan lengkeng diperoleh bahwa : 1) Net present value (NPV) komoditi cengkeh, rambutan dan lengkeng bernilai positif yakni masing-masing Rp. 126.127. 738,-; Rp. 255.516.580,-; Rp. 262.621.895; 2) Internal Rate or Return (IRR) atau tingkat bunga yang menghasilkan NPV sebesar nol untuk komoditi cengkeh, rambutan dan lengkeng yakni masing-masing 31,06%; 61,28%; dan 58,5%; 3) Benefit Cost Ratio (B/C), menghasilkan B/C cengkeh 1,95; rambutan 9,34; dan lengkeng 6,90; 4) Dicounted Payback Period (DPP) atau pada waktu yang diperlukan untuk mengembalikan seluruh investasi yang telah ditanamkan, menunjukkan komoditi cengkeh adalah 9 tahun 2 bulan, rambutan 6 tahun 4 bulan dan lengkeng 11 tahun 4 bulan.

Teks Lengkap:

XML

Referensi

Abinowo, U.2000. Model Pertanian Masa Depan. Solusi Alternatif Menghadapi Perdagangan Bebas. Sentra Pengembangan Agribisnis Terpadu. SPAT- Pasuruan

Badan Pusat Statistik. 2003. Kecamatan Pamona Utara Dalam Angka 2002. BPS. Poso

Badan Litbang Pertanian, 2004. Laporan Proyek Peningkatan Pendapatan Petani Melalui Inovasi (P3MI). Badan Litbang Pertanian, Jakarta.

Madjid, A. R. 2009. Dasar – Dasar Ilmu Tanah. Fakultas Pertanian Unsri & Program Pascasarjana Unsri. http://dasar2ilmutanah.blogspot.com

Soeratno dan Lincolin Arsyad. 1993. Metodologi Penelitian. UPP AMP YKPN. Yogyakarta

Titilola, S.O. 1990. The Economic of Incorporating Indigenous Knowlede System into Agricultural Development. A Model and Analytical Framework. In: Studies in Technology and Social Change. No. 17. IOWA Sate University Research Fondation

Refbacks

  • Saat ini tidak ada refbacks.