Sambung Pucuk Dini Pada 5 Jenis Klon Kakao (Theobroma cacao L.) Dengan Umur Batang Bawah Yang Berbeda

Ridwan Ridwan

Sari

Penelitian ini bertujuan mengetahui umur batang bawah yang tepat untuk setiap klon pada sambung pucuk dini tanaman kakao, mengetahui jenis klon yang baik terhadap keberhasilan sambung pucuk dini tanaman kakao dan mendapat umur batang bawah yang lebih baik terhadap sambung pucuk dini tanaman kakao.  Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Ilmu-Ilmu kehutanan, Fakultas Kehutanan, Universitas Tadulako, Palu, dimulai dari bulan Januari sampai April 2015.  Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan perlakuan yang disusun secara faktorial.  Perlakuan yang dicoba terdiri dari dua faktor yaitu faktor pertama adalah klon unggul sebagai batang atas (entries) dan faktor kedua adalah umur batang bawah yang berbeda.  Data diolah dengan analisis sidik ragam dan untuk mengetahui adanya perbedaan antar perlakuan, maka dilakukan uji lanjut dengan uji jarak berganda Duncan (DMRT) pada taraf 5%.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat umur batang bawah yang tepat untuk setiap klon pada sambung pucuk dini tanaman kakao.  Klon MO1 memberikan tingkat keberhasilan yang lebih baik terhadap semua variabel pengamatan, dimana rata-rata kecepatan tumbuhnya yaitu 10,44 hari setelah penyambungan, persentase sambungan tumbuh yaitu 100%, jumlah tunas yaitu 6,22,  jumlah daun yaitu 11,33 helai dan diameter tunas yaitu 0,40 mm dan batang bawah umur 2 minggu memberikan tingkat keberhasilan yang lebih baik terhadap semua variabel pengamatan, dimana rata-rata kecepatan tumbuhnya yaitu 10,40 hari setelah penyambungan, persentase sambungan tumbuh yaitu 100%, jumlah tunas yaitu 5,20,  jumlah daun yaitu 10,67 helai dan diameter tunas yaitu 0,33 mm. 

Kata Kunci

klon kakao, umur batang bawah, entries, sambung pucuk dini.

Teks Lengkap:

PDF

Referensi

Barus,T. 2000. Respon Fisiologi Jeruk Besar (Citrus grandis (L.) Kultivar ‘Cikoneng’ dan ‘Nambangan’ terhadap Penyambungan dengan Beberapa Jenis Batang Bawah. (Tesis), Program Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor.

Ditjenbun (Direktorat Jenderal Perkebunan). 2008. Gerakan peningkatan produksi dan mutu kakao nasional. http:/ditjenbun.deptan.

Gardner, F.P., R.B. Pearce and R.L. Mitchell. 1991. Physiology of crop plants. The Iowa State University Press.

Hartmann, H.T., D.E. Kester, F.T. Davies, and R. L. Geneve. 1997. Plant Propagation Principles and Practices. 6 th. ed. Prentice Hall, Englewood Cliffs, New York. 662 p.

Rochiman, K dan S.S Harjadi. 1973. Pembiakan Vegetatif. Departemen Agronomi Fakultas Pertanian IPB. Bogor.

Samekto, H., A.Supriantono dan D. Kristianto. 1995. Pengaruh umur dan bagian semaian terhadap pertumbuhan stek satu ruas batang bawah jeruk Japanese citroen. Jurnal Hortikultura 5 (1): 25-29.

Tambing, Y, E. Adelina, T. Budiarti, dan E. Murniati, 2008. Kompatibilitas Batang Bawah Nangka Asal Sulawesi Tengah Dengan Cara Sambung Pucuk. J.Agroland 15 (2): 95 - 100.

Tirtawinata, M. R., 2003. Kajian anatomi dan fisiologi sambungan bibit manggis dengan beberapa anggota kerabat clusiaceae. Disertasi. Program Pascasarjana Institut Pertanian Bogor.

Wattimena, G. A, 1992. Bioteknologi Tanaman 1. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi Pusat Antar Universitas Institut Pertanian Bogor.

Wudianto, 2002. Membuat Cangkok, Stek, dan Okulasi . Jakarta : PT. Penebar Swadaya.

Refbacks

  • Saat ini tidak ada refbacks.